FRAMING THE DIGITAL DIVIDE

Andi Windah

Abstract


Keberadaan teknologi informasi komunikasi (TIK), seperti internet, menjadi pembahasan diskusi hangat di pelbagai belahan dunia. Salah satunya yakni bagaimana keberadaan TIK telah mengubah masyarakat dunia secara fundamental, mengingat keberadaan teknologi modern dapat menghubungkan beragam relasi di seluruh dunia secara virtual, bebas dari ruang dan waktu. Akan tetapi, ditengah hiruk-pikuknya perkembangan teknologi komunikasi yang mendunia, masih ada daerah terpencil yang memiliki keterbatasan dalam akses teknologi. Keterbatasan inilah yang pada akhirnya menimbulkan suatu gejala sosial yang disebut dengan kesenjangan digital (digital divide). Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi dokumentasi. Selanjutnya, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan praktis dengan mengambil contoh kasus Association of Progressive Communication (APC), sebuah lembaga dunia yang berkecimpung dalam memerangi kesenjangan digital di dunia sebagai kerangka dalam menerapkan pembahasan secara deskriptif. Hasil dari penelusuran ditemukan bahwa digital divide muncul sebagai akibat dari kurangnya akses kepada TIK. Faktor yang mempengaruhi yakni tidak hanya karena ketiadaan sarana dan fasilitas, akan tetapi juga karena minimnya pengetahuan dan kurangnya motivasi dalam menggunakan TIK. Disisi lain, program-program yang diterapkan APC untuk memerangi digital divide terkadang mengalami kesuksesan dan kegagalan. Di Indonesia pun, keberadaan TIK masih menjadi persoalan utama di daerah terpencil mengingat keberadaan perangkat keras dan piranti lunak telekomunikasi yang belum memadai.

 

Kata kunci: teknologi informasi komnikasi, kesenjangan digital

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.