PELINDUNGAN BAHASA LAMPUNG DALAM PERUBAHAN BUDAYA DI PROVINSI LAMPUNG

  • Indra Bulan Universitas Lampung
  • Bendi Juantara Universitas Lampung
Keywords: Bahasa daerah Lampung, Kebijakan pemerintah, Provinsi Lampung

Abstract

Efek open society yang lahir dari menguatnya arus society 5.0 didunia telah melahirkan pergesekan yang kuat dengan prinsif-prinsif dasar masyarakat Lampung. Sejatinya Piil Pesenggiri sebagai tuntunan hidup orang Lampung dalam kaitan kehidupan pribadi, dalam kehidupan berkeluarga, maupun dengan masyarakat bukan orang Lampung menjadi pengikat dan pedoman agar kelestarian adat istiadat Lampung dapat terus terjaga. Namun demikian, realiasasi dilapangan saat ini justru menunjukkan sebaliknya. pola kehidupan masyarakat Lampung terutama kaitannya dengan falsafah nemui nyimahdan nengah nyappur, membawa bahasa Lampung tergerus pada titik terendah dalam sejarah kebudayaan. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia, masyarakat Lampung kini tidak lagi memiliki kebanggan dalam berbicara bahasa Lampung. persoalan ini tentu menjadi keprihatianan, terutama mengenai eksistensi dari bahasa Lampung itu sendiri yang menuju keniscahayaan. Dalam upaya melindungi bahasa Lampung tersebut, saat ini diperlukan kebijakan pelindungan agar perubahan kebudayaan yang lahir akibat dampak modernisasi tidak tergerus lebih dalam. penelitian ini ingin menganalisis upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam membuat kebijakan pelindungan terhadap bahasa Lampung.
Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif dengan mengurai data secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, serta tinjauan pustaka yang berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini upaya pemerintah daerah untuk membuat kebijakan pelindungan terhadap bahasa Lampung sudah dilakukan
dengan berbagai cara, namun upaya tersebut ternyata belum signifikan melestarikan budaya bahasa Lampung. Upaya pelindungan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, tidak melakukan penafsiran ganda terhadap makna falsafah hidup ulun Lappung.Kedua, menciptakan kesadaran akan pentingnya perbedaan nilai antar masyarakat. Ketiga konservasi dan revitalisasi bahasa dengan upaya pengembangan dan pelindungan bahasa sekaligus pembinaan penutur bahasamelalui pembelajaran. Pemasyarakatan bahasa daerah Lampung ke berbagai lapisan masyarakat terutama
disekolah hingga perguruan tinggi.

Published
2020-01-05