NEO NASIONALISME DAN REVOLUSI DIGITAL DI INDONESIA

  • Thomas Tokan Pureklolon Universitas Pelita Harapan
Keywords: Nasionalisme, Neonasionalisme, Revolusi Digital, Globalisasi

Abstract

Dalam zaman modern ini, terjadi banyak perubahan di tengah masyarakat dunia terutama dalam hal kemajuan teknologi. Banyak hal telah ditinggalkan di masa lampau, bisa termasuk di dalamnya nasionalisme. Masyarakat di era digital seperti saat ini lebih memilih untuk berada di masa depan dan mengikuti kebanyakan perubahan yang ada karena tidak ada yang ingin merasa tertinggal. Jadilah satu per satu budaya lama ditinggalkan, digantikan dengan hal-hal baru yang lebih “kekinian”, termasuk gadget dan media sosial. Di masa lampau, semua informasi dapat diperoleh dari textbook, karena internet pada saat itu, antara belum ada atau belum lengkap. Banyak perubahan baru telah terjadi di era digital, hal tersebut mencakup sistem kepercayaan nasionalisme yang telah berubah mengikuti perubahan zaman, atau dengan kata lain, telah mengalami revolusi digital. Sistem nasionalisme yang kita kenal saat ini sudah jauh berbeda dengan
dahulu kala. Ketika di masa lampau untuk mencari sebuah informasi, seseorang harus mencarinya di perpustakaan nasional dalam koleksi buku teks, namun pada masa kini, semua informasi dapat diperoleh dalam jangkauan tangan karena internet menyediakan segalanya. Karena kemudahan tersebutlah, yang membuat masyarakat di era ini menjadi lebih pasif akan sesama dan terkurung dalam dunia maya, cendrung meninggalkan budaya nasionalisme serta terus mengikuti arus globalisasi budaya dari luar. Didasari oleh hal tersebutlah asal mula munculnya yang namanya neo nasionalisme. Dengan peradaban modern, teknologi menjadi lebih mutakhir dan informasi secara lebih bebas beredar. Mulai dari telepon, hingga social media yang sangat populer seperti Facebook, Twitter, Reddit, Instagram, YouTube dan lain-lain. Informasi yang dapat dialirkan melalui outlet informasi jejaring sosial tidak dapat diremehkan, mulai dari hal sependek updatestatus, gambar, video, buku, bahkan dokumen teknis dapat diunggah dan dibagikan ke seluruh dunia. Indonesia sendiri merupakan negara yang dapat dibilang modern, dengan populasi pengguna internet mencapai 38.191.873 dan 79,7% dari populasi tersebut merupakan pengguna aktif media sosial. Fenomena ini juga dapat disebut sebagai “Revolusi Digital”.
Revolusi digital bukan hanya revolusi teknologi dan ekonomi. Revolusi digital juga merupakan revolusi politik dan kewarganegaraan. Revolusi ini menggeser peran pemerintah menuju “Kebijakan Publik 2.0”, yang dikembangkan bersama oleh lembagalembaga publik dan warga pada platform tertentu, maka timbullah istilah “Pemerintah sebagai wadah (platform)”. Dengan terjadinya revolusi digital dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap nasionalisme, sehingga perlu ditinjau cara untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul. Perubahan ini tentu memiliki konsekuensi terhadap pandangan masyarakat terhadap paham nasionalisme.Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif yang bersifat kritis dalam hal ini menganalisis hubungan antara “Neo Nasionalisme dan Revolusi Digital di Indonesia”. Fokus tulisan ini bertujuan untuk mengungkap perubahan-perubahan
tersebut dari sudut pandang sosio-ekonomi dan politis.Dari aspek politik, revolusi digital juga akan memicu perubahan struktur politik pada pemerintahan dan memicu terbentuknya kebijakan-kebijakan baru. Hal ini akan membuat negara meninggalkan aspek politik dari nasionalisme yang ‘lama’, dan kemudian mengembangkan konsepkonsep neo nasionalisme dalam negara.

Published
2020-01-05